KPMI

Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Dzikir Bikin Hidup Lebih Hidup

Adalah kehormatan besar bisa menjadi kebanggaan orang lain. Makin terpandang, makin besar kehormatan. Seorang anak tersanjung dan bahagia tatkala dibanggakan orangtuanya. Lebih tersanjung dan lebih bahagia ketika menjadi kebanggaan bangsa dan negaranya. Dan lebih tersanjung lagi saat dibanggakan kaum muslimin di seluruh dunia. Setelah menjadi kebanggaan dunia, masihkah ada kebanggaan lebih tinggi? Masih. Yakni menjadi kebanggaan Allah Ta’ala. Bagaimana caranya? Simak kisah Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu. Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri sejumlah sahabatnya yang sedang duduk melingkar. “Sedang apa, kalian?” tanya Rasulullah. “Kami bermajelis dalam rangka mengingat Allah, dan bersyukur kepada-Nya karena telah menunjukkan kami kepada Islam,” jawab mereka. “Sumpah demi Allah, apa hanya karena itu kalian bermajelis?” tanya Rasulullah. “Sumpah demi Allah, hanya karena itu kami bermajelis,” jawab mereka. “Sebenarnya aku menyumpah kalian bukan karena menyangsikan kejujuran kalian, namun barusan Jibril mengabarkan bahwa Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat,” kata Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (HR. Muslim). Luar biasa! Sehebat itukah pengaruh dzikrullah dan syukur nikmat? Ya. Sebab dengan membayangkan besarnya nikmat dan karunia Allah, lalu membandingkan semua itu dengan banyaknya aib pada diri dan amal kita, muncullah rasa “utang budi” yang luar biasa kepada Allah. Rasa malu akan menyelimuti hati kita, mengingat betapa banyak nikmat Allah yang belum kita syukuri. Kita merasa tak memiliki persembahan apa-apa untuk menghadap Allah, kelak. Semua kenikmatan berasal dari-Nya. Dia pula yang menyadarkan kita atas segala kenikmatan tadi, lalu menggerakkan kita untuk bersyukur kepada-Nya. Semua kebaikan bermula dari-Nya dan berakhir pada-Nya. Ketika seseorang benar-benar merasa fakir di hadapan Allah, dan sadar bahwa dirinya tak berjasa apa pun kepada-Nya, namun di saat yang sama demikian berhajat kepada-Nya, ketika itulah pintu ‘ubudiyyah (beribadah kepada Allah) terbuka lebar-lebar baginya. Tak ada jalan pintas yang menghantarkan seseorang kepada Allah melebihi ‘ubudiyyah. Bermajelis dalam rangka mengingat Allah dan mensyukuri nikmat-Nya bukan berarti mengadakan majelis dzikir jama'i seperti yang marak kita saksikan di televisi. Majelis dzikir yang sesungguhnya ketika masing-masing merenungi betapa indahnya nikmat tauhid dan iman yang Allah anugerahkan kepadanya. Mengingat bahwa Allah telah menyelamatkannya dari jurang kemusyrikan dan kekafiran. Ketika berjuta-juta manusia terjerumus ke dalamnya. Mengingat bahwa ia hanya sujud kepada Allah, Sang Pencipta dan Penguasa jagad raya, sedangkan berjuta manusia lainnya sujud kepada selain-Nya, atau bahkan bersujud kepada makhluk yang lebih nista daripada mereka. Apa kelebihan kita daripada mereka? Apa yang menjadikan kita lebih berhak mendapat hidayah daripada mereka? Tidak ada. Semuanya murni karena rahmat Allah. Allah berfirman, yang artinya, “Andai Allah menghendaki, niscaya Ia menjadikan kalian umat yang satu (muslim semua). Akan tetapi Dia menyesatkan siapa yang dikehendakiNya, dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan kalian pasti akan ditanya tentangsemua yang kalian lakukan.” (QS. An-Nahl: 93). Dengan menyadari hakikat ini, lisan pun akan tergerak untuk mengatakan subhaanallaah, alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar, dan astaghfirullah dengan khusyu dan tulus. Tak perlu komando dari ustad. Tak perlu liputan kamera televisi. Tak perlu ratusan orang berkumpul di lapangan terbuka. Dua orang pun bisa melakukannya. Mu’adz bin Jabal Radhiyallaahu ‘anhu konon berkata kepada sahabat karibnya, “Ayo, kita duduk sejenak untuk mengasah iman.” Lalu keduanya duduk mengingat Allah dan menghaturkan puji-pujian kepada-Nya.